Sejarah Pengelasan: Perjalanan Panjang Teknik Penyambungan Logam dari Zaman Prasejarah hingga Era Modern
Pernahkah Anda membayangkan bahwa teknik menyambung logam
sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun sebelum listrik ditemukan? Sejarah
pengelasan ternyata jauh lebih panjang dan menarik daripada yang banyak orang
kira. Dari sekadar memanaskan logam dengan bara kayu hingga menggunakan sinar
laser presisi tinggi, perjalanan ini mencerminkan bagaimana manusia terus
berinovasi demi menyatukan material dengan lebih kuat, cepat, dan efisien.
Artikel ini mengupas tuntas sejarah pengelasan secara
kronologis, mulai dari era prasejarah, kelahiran las busur listrik, hingga tiga
"masa keemasan" yang membentuk dunia pengelasan seperti yang kita
kenal sekarang.
Awal Mula Penyambungan Logam di Zaman Prasejarah
Berdasarkan temuan arkeologis, teknik penyambungan logam
telah dipraktikkan sejak 4000–3000 SM. Pada masa itu, manusia sudah mengenal
pembrasingan paduan emas-tembaga dan pematrian paduan timbal-timah. Sumber
panas yang digunakan berasal dari pembakaran kayu atau arang.
Sayangnya, suhu yang dihasilkan dari pembakaran kayu dan
arang jauh dari cukup untuk mengembangkan teknik ini lebih jauh. Akibatnya,
perkembangan penyambungan logam sempat mandek selama ribuan tahun—sampai
manusia menemukan cara memanfaatkan energi listrik.
Energi Listrik Mengubah Segalanya: Kelahiran Las Busur
Titik balik sejarah pengelasan terjadi setelah energi
listrik dapat dimanfaatkan secara luas. Teknologi las pun berkembang pesat
menjadi teknik penyambungan logam yang jauh lebih mutakhir. Sebagian besar
metode yang masih kita gunakan sekarang—seperti las busur, las resistansi
listrik, las termit, dan las gas—justru lahir pada akhir abad ke-19.
1885: Benardos dan Elektroda Karbon
Alat las busur mulai dipakai secara luas setelah digunakan
oleh Benardos pada 1885. Ia memakai elektroda dari batang karbon atau
grafit yang didekatkan ke logam induk sejauh kurang lebih 2 mm, sehingga
tercipta busur listrik sebagai sumber panas pengelasan. Panas inilah yang
mencairkan logam pengisi hingga menyambung logam yang dilas.
1889: Inovasi Busur Ganda dari Zerner
Empat tahun kemudian, Zerner mengembangkan metode las
busur baru menggunakan dua batang karbon. Gaya elektromagnetik menarik busur
listrik yang dihasilkan ke logam dasar, menciptakan semburan busur yang jauh
lebih kuat.
1892: Slavianoff Memperkenalkan Kawat Elektroda Logam
Slavianoff menjadi orang pertama yang menggunakan
kawat logam yang ikut mencair akibat panas busur listrik. Berkat penemuan ini,
elektroda tidak lagi sekadar penghantar dan pembangkit busur, tetapi juga
berfungsi sebagai logam pengisi.
Kjellberg dan Elektroda Terbungkus
Penemuan berikutnya datang dari Kjellberg, yang
menyadari bahwa kualitas sambungan las meningkat signifikan bila kawat
elektroda dibungkus terak. Inovasi inilah cikal bakal elektroda terbungkus yang
sampai sekarang masih sangat luas digunakan.
Masa Keemasan Pertama Pengelasan (Akhir Abad 19 – Awal
Abad 20)
Selain deretan penemuan las busur di atas, beberapa metode
penting lain juga lahir dalam rentang waktu yang hampir bersamaan:
- 1886
— Thomson menciptakan proses las resistansi listrik
- 1895
— Goldschmidt menemukan las termit
- 1901
— Fouché dan Piccard mulai menggunakan las oksi-asetilen
Karena begitu banyak metode pengelasan yang lahir dalam
kurun waktu sekitar dua dekade ini, periode tersebut dijuluki sebagai masa
keemasan pertama dalam sejarah pengelasan.
Namun setelah 1910, dunia pengelasan sempat mengalami masa
vakum. Selama 15 tahun berikutnya, nyaris tidak ada terobosan berarti.
Masa Keemasan Kedua: 1926–1936
Masa keemasan kedua dimulai pada 1926, ditandai dengan
sejumlah penemuan penting:
- Las
hidrogen atom oleh Lungumir
- Las
busur logam dengan pelindung gas mulia oleh Hobart dan Dener
- Las
busur rendam (submerged arc welding) oleh Kennedy pada 1935
Penemuan las busur rendam menjadi tonggak penting karena
membuka jalan bagi otomatisasi pengelasan, sekaligus memperbaiki kualitas
sambungan las secara signifikan. Setahun berselang, pada 1936, Wasserman
menemukan metode pembrasingan berkekuatan tinggi. Setelahnya, dunia pengelasan
kembali relatif sepi dari inovasi hingga 1950.
Masa Keemasan Ketiga: 1950 hingga Sekarang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkumpul
hingga 1950 memicu percepatan baru dalam dunia las—dan periode ini masih
berlangsung hingga hari ini. Beberapa metode pengelasan yang lahir pada masa
keemasan ketiga antara lain:
- Las
tekan dingin
- Las
terak
- Las
busur dengan pelindung gas CO2
- Las
gesek
- Las
ultrasonik
- Las
sinar elektron
- Las
busur plasma
- Las
laser
Menariknya, tidak semua metode ini sudah dipakai secara luas
dalam praktik. Sebagian masih terus disempurnakan, dan berpotensi menjadi
kontribusi berharga bagi kemajuan teknologi pengelasan di masa depan.
Kapan Proses Las SMAW, GTAW, GMAW, OAW, dan FCAW
Ditemukan?
Selain era besar di atas, banyak pembaca juga penasaran
dengan kapan tepatnya proses-proses las yang masih dipakai luas hari ini
benar-benar lahir. Berikut rangkumannya:
- 1901
— OAW (Oxy-Acetylene Welding / las oksi-asetilen): diperkenalkan oleh
Fouché dan Piccard, salah satu metode las gas tertua yang masih dipakai
untuk pekerjaan ringan dan reparasi.
- Awal
1900-an — SMAW (Shielded Metal Arc Welding / las elektroda terbungkus,
dikenal juga sebagai las stik): berakar dari penemuan elektroda
terbungkus Kjellberg, lalu populer luas di berbagai industri pada era
1920–1930-an.
- 1941
— GTAW (Gas Tungsten Arc Welding / las TIG): disempurnakan oleh
Russell Meredith menggunakan elektroda tungsten dan gas pelindung helium,
awalnya untuk kebutuhan industri pesawat terbang.
- 1948
— GMAW (Gas Metal Arc Welding / las MIG): dikembangkan di Battelle
Memorial Institute, Ohio, menggunakan kawat elektroda yang terumpan
otomatis dengan gas pelindung.
- 1954
— FCAW (Flux-Cored Arc Welding / las inti fluks): pertama kali
diperkenalkan pada ekspo American Welding Society, menggabungkan
keunggulan kawat elektroda otomatis GMAW dengan perlindungan fluks ala
SMAW.
Kesimpulan: Mengapa Memahami Sejarah Pengelasan Itu
Penting?
Menelusuri sejarah pengelasan membantu kita memahami betapa
besar peran inovasi bertahap dalam membentuk teknologi yang kita andalkan hari
ini—mulai dari konstruksi bangunan, industri otomotif, hingga fabrikasi kapal
dan pesawat. Setiap metode las modern, sekecil apa pun, lahir dari eksperimen
dan penyempurnaan generasi demi generasi insinyur di seluruh dunia.
Bagi Anda yang berkecimpung di dunia teknik, fabrikasi, atau
sekadar penasaran dengan sejarah teknologi, memahami akar dari teknik
pengelasan ini bisa menjadi bekal untuk lebih menghargai proses di balik setiap
sambungan logam yang tampak sederhana.

Komentar
Posting Komentar