3 Jenis Nyala Api Las Oksiasetilin: Ciri-Ciri, Fungsi, dan Cara Mengaturnya
Las oksiasetilin (oxyacetylene welding) adalah salah satu teknik las tertua yang masih dipakai luas sampai sekarang, terutama untuk pengelasan pelat tipis, pemotongan logam, hingga proses brazing. Salah satu kunci keberhasilan las oksiasetilin ada pada nyala api yang dihasilkan dari pembakaran campuran gas oksigen (O₂) dan asetilin (C₂H₂).
Masalahnya, banyak pemula (dan bahkan tukang las berpengalaman) sering keliru mengatur perbandingan gas ini, padahal jenis nyala api yang salah bisa merusak hasil las, membuat sambungan getas, atau bahkan berbahaya bagi operator. Artikel ini membahas tuntas 3 jenis nyala api las oksiasetilin, ciri-cirinya, kapan masing-masing digunakan, sampai cara mengatur tekanan gas dengan aman.
Apa yang Menentukan Jenis Nyala Api?
Jenis nyala api ditentukan oleh rasio volume oksigen
terhadap asetilin yang keluar dari torch (obor las). Ada tiga kemungkinan
hasil pembakaran:
- Nyala
Netral — rasio oksigen dan asetilin seimbang (kurang lebih 1:1)
- Nyala
Karburasi — asetilin berlebih dibanding oksigen
- Nyala
Oksidasi — oksigen berlebih dibanding asetilin
Ketiganya punya bentuk kerucut api, warna, dan suhu yang
berbeda — dan karena itu, punya kegunaan yang berbeda pula.
1. Nyala Api Netral (Neutral Flame)
Nyala netral adalah jenis yang paling umum digunakan
untuk pengelasan baja karbon, baja tahan karat, besi cor, tembaga, dan
aluminium.
Ciri-ciri:
- Terbentuk
dari perbandingan oksigen dan asetilin yang hampir sama (1:1)
- Memiliki
kerucut dalam (inner cone) berwarna biru terang dengan ujung yang
tegas dan jelas
- Tidak
ada kelebihan asetilin (tidak ada "ekor api" atau feather
di ujung kerucut dalam)
- Suhu
nyala api mencapai sekitar 3.100–3.300°C pada ujung kerucut dalam
Kapan digunakan:
- Pengelasan
umum pada baja karbon rendah dan menengah
- Pengelasan
besi cor dan tembaga
- Proses
yang butuh hasil las bersih tanpa reaksi kimia tambahan pada logam
Cara mengenalinya saat menyalakan torch: Kerucut
dalam akan terlihat tajam, halus, dan tidak berbulu. Jika masih terlihat ada
semburat api tambahan (kehijauan/kebiruan pudar) di sekitar kerucut dalam,
berarti asetilin masih berlebih — tambahkan sedikit oksigen sampai kerucut
dalam terbentuk bersih.
2. Nyala Api Karburasi (Carburizing Flame)
Disebut juga reducing flame, nyala ini terbentuk saat
asetilin lebih banyak dibanding oksigen.
Ciri-ciri:
- Muncul
3 zona nyala: kerucut dalam, selubung asetilin berlebih (acetylene
feather) berwarna putih kebiruan, dan selubung luar
- Semakin
panjang "ekor" putih di antara kerucut dalam dan selubung luar,
semakin banyak kelebihan asetilinnya
- Suhu
lebih rendah dari nyala netral, sekitar 2.900–3.000°C
- Nyala
terlihat lebih panjang dan agak berasap dibanding nyala netral
Kapan digunakan:
- Pengelasan
logam yang butuh tambahan unsur karbon, misalnya hard facing atau
pelapisan permukaan tertentu
- Beberapa
proses brazing dan solder keras (silver soldering)
- Tidak
disarankan untuk baja karbon biasa karena karbon berlebih bisa membuat
sambungan las jadi getas dan keras
3. Nyala Api Oksidasi (Oxidizing Flame)
Nyala ini terbentuk saat oksigen lebih banyak
dibanding asetilin — kebalikan dari nyala karburasi.
Ciri-ciri:
- Kerucut
dalam lebih pendek, lebih runcing, dan berwarna ungu keunguan pucat
- Suara
pembakaran lebih mendesis/berisik dibanding dua jenis nyala lainnya
- Suhu
paling tinggi di antara ketiganya, bisa mencapai 3.300–3.500°C
- Cenderung
menyebabkan percikan (sparking) saat mengenai logam cair
Kapan digunakan:
- Pengelasan
kuningan (brazing brass) dan perunggu, karena lapisan oksida yang
terbentuk membantu mencegah penguapan seng
- Harus
dihindari untuk baja karbon dan besi cor karena oksigen berlebih akan
mengoksidasi logam las, membuat sambungan keropos dan lemah
Ringkasan Perbandingan
|
Jenis Nyala |
Rasio O₂ : C₂H₂ |
Suhu Kerucut Dalam |
Penggunaan Utama |
|
Netral |
±1:1 |
3.100–3.300°C |
Baja karbon,
besi cor, tembaga |
|
Karburasi |
O₂ < C₂H₂ |
2.900–3.000°C |
Hard facing,
brazing tertentu |
|
Oksidasi |
O₂ > C₂H₂ |
3.300–3.500°C |
Kuningan,
perunggu |
Tips Keselamatan Saat Mengatur Nyala Api
- Selalu
gunakan kacamata las dengan filter yang sesuai (minimal shade 5) saat
menyalakan dan mengamati nyala api
- Nyalakan
asetilin terlebih dahulu sebelum oksigen, lalu sesuaikan perbandingannya
sambil mengamati bentuk kerucut api
- Jangan
pernah mengatur nyala api sambil mengarahkan torch ke arah tubuh atau
orang lain
- Pastikan
area kerja punya ventilasi baik dan bebas dari bahan mudah terbakar
- Periksa
selang dan sambungan secara rutin untuk mencegah kebocoran gas
Tabel Tekanan Kerja Oksigen dan Asetilin Berdasarkan
Ukuran Lubang Tip
Karena penomoran tip (nozzle) berbeda antar pabrikan,
acuan paling akurat dan bisa dibandingkan lintas merek adalah diameter lubang
tip dalam ukuran mata bor (drill size). Berikut tabel operasional untuk
las oksiasetilin (nyala netral) berdasarkan data resmi nozzle las seri
W/W-1/W-J:
|
Tebal
Logam |
Ukuran
Tip |
Ukuran
Lubang (Drill Size) |
Tekanan
Oksigen |
Tekanan
Asetilin |
|
1/32" (0,8 mm) |
000 |
No. 75 (0,022") |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
|
3/64" (1,2 mm) |
00 |
No. 70 (0,028") |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
|
5/64" (1,9 mm) |
0 |
No. 65 (0,035") |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
|
3/32" (2,4 mm) |
1 |
No. 60 (0,040") |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
|
1/8" (3,2 mm) |
2 |
No. 56 (0,046") |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
3–5 psi (0,21–0,34 bar) |
|
3/16" (4,8 mm) |
3 |
No. 53 (0,060") |
4–7 psi (0,28–0,48 bar) |
3–6 psi (0,21–0,41 bar) |
|
1/4" (6,4 mm) |
4 |
No. 49 (0,073") |
5–10 psi (0,34–0,69 bar) |
4–7 psi (0,28–0,48 bar) |
|
1/2" (12,7 mm) |
5 |
No. 43 (0,089") |
6–12 psi (0,41–0,83 bar) |
5–8 psi (0,34–0,55 bar) |
|
3/4" (19,0 mm) |
6 |
No. 36 (0,106") |
7–14 psi (0,48–0,97 bar) |
6–9 psi (0,41–0,62 bar) |
|
1¼" (32,0 mm) |
7 |
No. 30 (0,128") |
8–16 psi (0,55–1,10 bar) |
8–10 psi (0,55–0,69 bar) |
|
2" (51,0 mm) |
8 |
No. 29 (0,136") |
10–19 psi (0,69–1,31 bar) |
9–12 psi (0,62–0,83 bar) |
|
3" (76,2 mm) |
10 |
No. 27 (0,144") |
12–24 psi (0,83–1,65 bar) |
12–15 psi (0,83–1,03 bar) |
Sumber: Victor Professional Welding and Heating
Nozzles and Tips Catalog (data operasional nozzle seri W, W-1, W-J untuk
oksi-asetilin)
Komentar
Posting Komentar